Siswi SMAN 1 Sragen Jadi Korban Bully Guru Karena Tidak Pakai Kerudung, Ini Langkah Dinas Pendidikan

SRAGEN – Kanwil Pendidikan dan Kebudayaan Jawa Tengah menindak pelecehan terhadap S, siswa kelas X SMAN 1 Sumberlawang, Sragen, Jawa Tengah.

Pak S dibully karena tidak berhijab.

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan akan mengarahkan guru sekolah.

Tujuannya, agar kejadian yang sama tidak terulang lagi di kemudian hari.

Semua kepala sekolah SMA, SMK, negeri, dan swasta di Kabupaten VI, termasuk Sragen, Karanganyar, dan Wonogiri, juga akan disosialisasikan terkait hal ini.

Besok (hari ini) di SMAN 1 Sumberlawang kami akan memberikan materi ajar yang lebih spesifik terkait hal ini kepada para guru.

Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Wilayah VI Jateng Sunarno mengatakan, SMA Negeri, SMK, dan SLB Cabang Pelayanan Wilayah VI akan memberikan arahan yang lebih spesifik terkait masalah ini.

Sunarno berterima kasih kepada Polri atas rencana yang baik serta keluarga korban yang telah membuat pernyataan penting yang seharusnya tidak terjadi di sekolah tersebut.

Kami akan menggunakan data tersebut sebagai sumber data untuk mencegah hal yang sama terjadi di tempat lain.

Sunarno menilai hal serupa mungkin terjadi di tempat lain, namun korban tidak melaporkannya.

Suranti Tri Umiatsih, Kepala Sekolah Negeri 1 Sumberlawang, mengatakan sekolah akan bekerja sama dengan semua pihak, termasuk PPA dan berbagai pihak terkait, untuk melaksanakan pendidikan.

“Pada Hari Guru (25 November), kami akan membangun sekolah untuk anak-anak dan guru.

“Kami akan melakukan kegiatan untuk memulihkan semua ini,” kata Surante.

Untuk mencegah perundungan itu terjadi lagi, Snarty mengaku meminta keterangan kepada gurunya.

Setiap pelanggaran akan mengakibatkan sanksi administratif dari karyawan saat ini.

Sunarati mengatakan akan mengembangkan program untuk membantu anak-anak merasa nyaman dan aman di sekolah serta senang belajar guna mengembalikan rasa percaya diri mereka.

Suwarno, seorang guru matematika yang di-bully, mengatakan ini adalah pelajaran dan koreksi bagi dirinya dalam pekerjaan mengajarnya.

“Ini adalah koreksi diri yang tidak boleh dilakukan guru ke depan.

Dengan kejadian ini, saya tidak akan pernah mengulangi perilaku ini lagi dan akan dapat memberikan layanan terbaik kepada semua orang.”

Artikel ini adalah tentang dampak ‘insiden intimidasi guru’ pada siswa telanjang Shirazin, memperkuat semua mantan kepala sekolah.

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *