Produsen F&B Harus Jujur Dalam Hal Penyampaian Bahan Dan Komposisi Produk Makanan Atau Minuman

Laporan Wartawan, Eko Sutriyanto

JAKARTA – You are what you eat atau Kamu adalah apa yang kamu makan bukan hanya mitos.

Kualitas asupan dan kecukupan gizi memberikan pengaruh bagi tingkat kesehatan masyarakat.

Konsumsi pangan yang lebih sehat kembangkan imunitas tubuh yang menjadi masker kedua untuk menangkal virus.

“Konsumen sering kurang familiar dengan istilah komposisi dan klaim yang cukup rumit dalam suatu produk, terutama bahan pengawet maupun pengental serta bahan lainnya yang mungkin ditambahkan,” kata CEO dan Presiden Direktur PT Sewu Segar Primatama atau Re.juve, Richard Anthony kepada wartawan di Swiss German University (SGU) belum lama ini.

Untuk itu, kata dia produsen makanan atau minuman yang baik harus berkomitmen untuk hanya menggunakan bahan-bahan alami dan mencantumkannya dengan jelas bagi konsumen agar mudah dipahami karena konsumen berhak mengetahui apa yang mereka konsumsi,” kata

Diterangkan regulator seperti BPOM dan otoritas di negara lain memberikan toleransi kepada industri untuk tidak memasukkan bahan yang dinilai tidak melebihi batas.

Namun demikian, kata untuk produk Re.juve memilih jujur ​​u200bu200btetap memasukkan bahan dan komposisinya meski regulator memberikan toleransi.

“Misalnya kandungan trans fat atau lemak jenuh. Itu ada standarnya. Kalau di bawah 0,5 gram, saya tidak ingat persis, nanti bisa dibilang no trans fat, bisa dibilang no lemak jenuh. Makanya kita berkomitmen clean label yang enggak boleh (sembunyikan). 0,1 pun ya harus ditulis. Karena tidak sama dengan 0,1,” kata Richard.

SGU mengundang Richard Anthony, untuk memberikan General Lecture mengenai teknologi High Pressure Processing (HPP), yang merupakan teknologi pengawetan tanpa panas untuk menjaga nutrisi dan kebaikan alami lainnya dari bahan pangan, dan prinsip clean label untuk menjamin jaminan kualitas produk pangan terbaik.

Memiliki visi yang sejalan untuk berkontribusi pada pengembangan teknologi dan pangan industri untuk Indonesia yang lebih sehat, SGU dan Re.juve juga melaksanakan pembuatan MoU untuk kerjasama tridharma universitas.

Dr.rer.nat Filiana Santoso, Rektor Swiss German University mengatakan, SGU mendorong kolaborasi dengan mitra industri untuk aktivitas dosen dan mahasiswa yang memberikan pengalaman belajar kehidupan nyata kepada mahasiswa dan memiliki jalur ke masyarakat luas.

“Kami memperkenalkan teknologi ini kepada para mahasiswa sehingga mereka mengerti kalau menggunakan proses ini sehingga kalau sudah lulus mereka bisa buka usaha karena sudah tahu ada teknologi ini sehingga lebih banyak produk sehat seperti ini yang dijual di pasaran, ” kata Filiana.

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *