Bagaimana Pemerintah Menjaga Ketahanan Ekonomi Dalam Menghadapi Ancaman Resesi Global Pada Tahun 2023?

Liputan6.com, Jakarta Memasuki kuartal akhir 2022, perekonomian global masih menghadapi pukulan perlambatan pertumbuhan ekonomi yang masih menjadi bagian dari dampak penurunan risiko pandemi COVID-19. Ini benar-benar berakhir.

Proyeksi pertumbuhan ekonomi global yang disampaikan oleh sejumlah lembaga internasional juga akan berada pada kisaran 2,8%-3,2% pada tahun 2022, dan pada tahun 2023, kisaran yang diharapkan semula sebesar 2,9% – 3,3% – 2,2% – hanya 2,7%.

Baca juga

Kemampuan pemulihan perekonomian global saat ini dibarengi dengan tantangan terkini dari goncangan global berupa tekanan inflasi yang tinggi, likuiditas yang ketat, suku bunga yang tinggi, stagflasi, gejolak geopolitik, perubahan iklim dan krisis energi. bidang pangan, keuangan.

Ketidakpastian besar yang diciptakan oleh kondisi ini melemparkan ekonomi global ke pusaran air yang sempurna, menciptakan ancaman resesi global pada tahun 2023.

“Pandemi COVID-19 telah menunjukkan kepada kita bahwa solidaritas global bukan hanya bahasa. Tidak ada yang benar-benar aman sampai dunia aman,” kata Koordinator Perekonomian Airlangga Hartarto.

Tanda-tanda pelemahan ekonomi global tersebut juga tercermin pada November 2022 ketika Purchasing Manager’ Index (PMI) global mencatat kontraksi sebesar 48,8 setelah bulan sebelumnya tercatat sebesar 49,9.

Apalagi banyak negara yang secara teknis sudah memasuki level kontraksi setelah Juli 2022. Cina (49,4), Inggris (46,5), AS (47,7), Jepang (49), Jerman (46,2).

Meskipun tekanan harga mulai mereda, penurunan kinerja manufaktur global antara lain disebabkan lemahnya data produksi dan munculnya kekhawatiran di sektor manufaktur terhadap prospek ekonomi ke depan.

Sementara itu, pertumbuhan sektor manufaktur ASEAN secara keseluruhan pada November 2022 tetap optimis di level 50,7.

Kinerja manufaktur di sebagian besar negara ASEAN, termasuk Singapura (56,0), Filipina (52,7), Thailand (51,1) dan Indonesia (50,3), masih menunjukkan laju ekspansi. Selain itu, negara yang mengalami kontraksi adalah Malaysia (47,9), Vietnam (47,4), dan Myanmar (44,6).

Selain itu, pandemi dan gejolak geopolitik telah mendorong tingkat inflasi global yang tinggi, terutama di sektor energi dan pangan, karena gangguan pasokan.

Inflasi yang meningkat pesat telah menyebabkan banyak negara memperketat kebijakan moneter dengan menaikkan suku bunga, yang pada gilirannya memberikan tekanan pada ekonomi global.

Per Oktober 2022, inflasi masih tinggi di beberapa negara antara lain Argentina (88%), Turki (85,5%), Rusia (12,6%), Italia (11,9%), Inggris (11,1%) dan Uni Eropa (UE). . (10,7%).

Dampak kenaikan harga putaran kedua juga akan tercermin pada stabilisasi neraca perdagangan akibat penurunan permintaan ekspor.

Selain itu, pasar tenaga kerja global juga akan menunjukkan pelemahan, dengan penurunan upah riil dan penguatan respons likuiditas, yang akan menurunkan permintaan kredit.

Tingginya ketidakpastian perekonomian global menuntut perekonomian nasional untuk waspada dan bersiap menghadapi stagflasi global.

Tekanan dari arus keluar modal, depresiasi rupiah, serta penurunan kinerja ekspor dan manufaktur yang dapat menyebabkan lebih banyak pemutusan hubungan kerja merupakan eksternalitas risiko yang perlu mendapat perhatian lebih dalam peramalan.

Di tengah ketidakpastian dan berbagai dampak badai sempurna terhadap perekonomian global, perekonomian Indonesia memang mampu menunjukkan ketahanan dengan hasil yang mengejutkan di berbagai indikator utama.

Pencapaian yang menggembirakan tersebut tidak terlepas dari serangkaian langkah kebijakan luar biasa yang telah digalakkan pemerintah untuk pencegahan COVID-19 dan pemulihan ekonomi nasional, berdasarkan ideologi kebijakan ‘people first’.

“Sebagai negara besar, mereka masih melihat istilah Kristalina, ekonomi terbesar dunia yang positif, sebagai titik terang dalam kegelapan, seperti Indonesia dan Perhimpunan Bangsa Bangsa Asia Tenggara. Oleh karena itu, investasi alternatif adalah cara untuk memastikan bahwa Indonesia adalah stabil secara politik dan stabil dari segi regulasi dan rule of law investasi, ini kesempatan bagi Indonesia untuk melangkah ke panggung dunia untuk mengukuhkan diri sebagai sebuah negara,” ujar Menko Airlangga.

Tren pandemi global Covid-19 yang belakangan kembali meningkat akibat substrain Omicron XBB dan BQ mengikuti tren peningkatan jumlah kasus baru Covid-19 nasional, namun masih dalam level yang terkendali.

Pemerintah terus mempercepat vaksinasi sebagai agen perubahan dalam menghadapi pandemi COVID-19, dengan lebih dari 445 juta dosis vaksin telah terdaftar hingga saat ini.

Per 6 Desember 2022 tercatat 203.759.538 dosis atau 86,83% dari target, 174.345.886 atau 74,30% dari target, dosis ke-2 174.345.886 atau 74,30% dari target, 67.235.823 dosis 3 atau 28,65% dari target, 49 5 atau 949% dari target, 49 5 atau 949% dari target Sebaik 4,17%.

Pemerintah juga telah mengimplementasikan dosis penguat kedua untuk lansia untuk mengurangi dampak substrain Omicron yang baru.

Kemudian semua provinsi dan kota telah ditetapkan sebagai PPKM Tingkat 1 dan dalam situasi saat ini Kementerian Kesehatan akan melakukan serosurvey lagi, dari mana pemerintah akan mengambil tindakan lebih lanjut,’ kata Menko Airlangga. .

Ditambah dengan peningkatan kasus Covid-19 yang terkendali, perekonomian nasional di tahun 2022 mampu membukukan kinerja yang kuat dengan pertumbuhan di atas 5% (YoY) hingga triwulan III.

Pada Q3 2022, pertumbuhan ekonomi Indonesia dapat mencapai 5,72% (yoy) atau 1,81% (qtq), namun pada akhir tahun 2022 kemungkinan masih akan berada di level 5,2% (yoy).

Konsumsi rumah tangga meningkat 5,39% (YoY) dan PMTB meningkat 4,96% (YoY), dan industri transportasi, pergudangan, penginapan, serta makanan dan minuman juga menunjukkan tanda-tanda pemulihan.

Prospek positif ini diperkirakan akan berlanjut di tahun 2023, ketika perekonomian negara diperkirakan tumbuh sebesar 5,3% (YoY), dan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada tahun 2023 diperkirakan meningkat sebesar 4,7%-5,1%.

Pertumbuhan yang mengesankan ini juga merupakan hasil dari ekonomi spasial yang semakin kuat di berbagai wilayah, mulai dari Jawa (56,39%), Sumatera (22%), Kalimantan (9,42%), Sulawesi (7,11%), dan Bali Nusra (2,74%). dipimpin oleh , Maluku Papua (2,43%).

Pertumbuhan ekonomi spasial di Sumatera dan Jawa terutama didorong oleh sektor pertanian, kehutanan dan perikanan, serta perdagangan dan telekomunikasi. Wilayah Bali dan Nusa Tenggara didominasi oleh sektor transportasi dan pergudangan serta penginapan dan catering.

Sedangkan bidang lainnya dipimpin oleh sektor pertambangan dan penggalian, pengangkutan dan pergudangan.

Inflasi negara di Tanah Air yang meningkat menjadi 5,71% pada Oktober dipicu oleh kenaikan harga BBM pada September relatif terkendali dan turun menjadi 5,42% pada November, namun masih di atas target 3,0±1%. Tingkat inflasi Indonesia juga lebih tinggi dari banyak negara lain, termasuk Argentina (88%), Turki (85,5%), Inggris (11,1%) dan Uni Eropa (10,7%).

“Artinya, Indonesia bisa mengelola angka-angka tersebut dengan lebih baik untuk isu yang sama, meski kenaikan harga energi Indonesia ‘dibeli’ oleh pemerintah. Yang pasti, kata Menko Airlangga, akses publik terbatas. . . “.

Perkembangan positif inflasi tersebut tidak lepas dari sinergi kebijakan yang tegas antara pemerintah pusat dan provinsi, Bank Indonesia dan berbagai mitra strategis lainnya melalui Tim Anti Inflasi Pusat dan Provinsi (TPIP-TPID) dan Inflasi Pangan Nasional. Gerakan Pengendalian (GNPIP) meliputi pengendalian dampak lanjutan dari penyesuaian harga BBM, termasuk menurunkan tingkat inflasi.

Pemerintah juga melakukan upaya stabilisasi harga melalui kebijakan 4K, yaitu kecukupan harga, ketersediaan pasokan, kelancaran distribusi, dan kelancaran komunikasi.

Meski dibayangi kemungkinan penurunan harga bahan baku dan lemahnya permintaan global, neraca perdagangan mencatat surplus sebesar $5,67 miliar pada Oktober 2022, mencatat surplus selama 30 bulan berturut-turut sejak Mei 2020.

Surplus neraca perdagangan tersebut merupakan hasil dari peningkatan kinerja ekspor pada tahun 2022 yang didominasi oleh kenaikan harga komoditas ekspor, terutama pada komoditas ekspor utama Indonesia seperti batu bara, CPO, dan baja.

Pada November 2022, sektor manufaktur juga terus menunjukkan kinerja positif dengan hasil PMI Indonesia yang tetap berada di level optimis 50,3.

Menko Airlangga mengatakan: “Kinerja sektor manufaktur yang terus berkembang perlu diapresiasi. Pemerintah juga akan terus bekerja keras untuk menciptakan iklim usaha yang kondusif agar kinerja positif ini dapat terus meningkat.” “. .

Selain itu, percepatan laju pertumbuhan ekonomi nasional tahun 2022 didukung oleh peningkatan kinerja indikator penuntun sektor ketenagakerjaan, dimana daya serap tenaga kerja terus membaik meskipun dominasi sektor pertanian.

Dibandingkan Agustus 2021 yang masih 6,49%, tingkat pengangguran terus turun menjadi 5,86% pada Agustus 2022, dan penduduk usia kerja terdampak Corona 19 turun hingga 17,17 juta jiwa. .

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *